Minggu, 09 Juli 2017

Fungsi Panwas

FUNGSI DAN PERAN PANWASLU DALAM SISTEM
PEMILIHAN UMUM DI INDONESIA
(Kajian dari aspek yuridis)
Oleh : J. Tjiptabudy

A.   Pendahuluan
Dalam perkembangan demokrasi di Indonesia pasca runtuhnya orde baru hingga saat ini telah mengembangkan pemikiran dari rakyat untuk mengimplementasikan asas kedaulatan rakyat dengan berbagai cara, sehingga dalam setiap sendi kehidupan bernegara nilai-nilai kedaulatan rakyat selalu menjadi jantung yang memompa darah keseluruh tubuh kenegaraan Republik Indonesia, selama ini rakyat merasa bahwa kedaulatan mereka hanya terbatas pada partisipasi mereka dalam pemilu untuk memilih anggota legislatif yang merupakan perwujudan wakil rakyat, sehingga rakyat menuntut agar peranan rakyat tidak hanya terbatas pada lingkup pemilihan legislatif saja melainkan juga lingkup pemilihan lembaga eksekutif mulai dari lingkup lembaga eksekutif tertinggi yaitu presiden, sampai pemilihan kepala daerah.
Pemilihan umum secara langsung oleh rakyat merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan Negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Undang-Undang Dasar 1945 dalam Pasal 1 ayat (2) menyatakan bahwa “kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Penyelenggaraan pemilihan umum secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dapat terwujud apabila dilaksanakan oleh penyelenggara pemilihan umum yang mempunyai integritas, profesionalisme dan akuntabilitas.
Akuntabiltas berarti setiap pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Pemilu harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dan kewenangannya kepada publik baik secara politik maupun secara hukum.  Bertanggung jawab secara politik berarti setiap unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan Pemilu mempunyai kewajiban menjelaskan kepada masyarakat fungsinya dan alasan tindakan yang diambil. Bertanggungjawab secara hukum berarti setiap pihak yang diduga melakukan pelanggaran hukum perihal asas-asas Pemilu yang demokratik wajib tunduk pada proses penegakan hukum berdasarkan asas praduga tak bersalah dan asas due process of law yang diatur dalam KUHAP (ADAB, 2003 : 8-9).
Oleh karena itu salah satu prasyarat penting dalam penyelenggaraan Pemilu di Negara demokrasi adalah bahwa penyelenggaraan Pemilu dilaksanakan oleh lembaga yang mandiri dari pemerintah (Ahmad Nadir, 2005 : 156).
Undang-Undang Dasar 1945 dalam pasal 22 ayat (5) menggariskan bahwa “pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri”. Sifat nasional mencerminkan bahwa wilayah kerja dan tanggung jawab KPU sebagai penyelenggara pemilihan umum mencakup seluruh wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. Sifat tetap menunjukkan KPU sebagai lembaga yang menjalankan tugas secara berkesinambungan meskipun dibatasi oleh masa jabatan tertentu. Sifat mandiri menegaskan bahwa KPU dalam menyelenggarkaan dan melaksanakan pemilihan umum bebas dari pengaruh pihak manapun.
Sedangkan pengawasan dari penyelenggaraan Pemilu tersebut diberikan kepada Badan Pengawasa Pemilu (Bawaslu) dan jajaran dibawahnya Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu).

B.   Kelembagaan dan Penciptaan Pemilu yang Demokratis
Pemilu merupakan satu-sayunya prosedur demokrasi yang melegitimasi kewenangan dan tindakan para wakil rakyat untuk melakukan tindakan tertentu. Pemilu adalah mekanisme sirkulasi dan regenerasi kekuasaan. Pemilu juga satu-satunya cara untuk menggantikan kekuasaan lama tanpa melalui kekerasan (chaos) dan kudeta.
Melalui pemilu rakyat dapat menentukan sikap politiknya untuk tetap percaya pada pemerintah lama, atau menggantikannya dengan yang baru. Dengan kata lain, pemilu merupakan sarana penting dalam mempromosikan dan meminta akuntabilitas dari para pejabat public. Melalui pemilu diharapkan proses politik yang berlangsung akan melahirkan suatu pemerintahan baru yang sah, demokratis dan benar-benar mewakili kepentingan masyarakat pemilih. Karenanya, Pemilu 2009 yang sedang berlangsung , tidak dapat lagi disebut sebagai eksperimen demokrasi yang akan mentolerir berbagai kelemahan dan peluang-peluang yang dapat mengancam kehidupan demokratis itu sendiri.
Pemilu dapat dikatakan demokratis jika memenuhi beberapa prasyarat dasar. Tidak seperti pada masa rezim orde baru dimana pemilu seringkali disebut sebagai ‘demokrasi seolah-olah’, pemilu yang sedang berlangsung sekarang sebagai pemilu reformasi harus mampu menjamin tegaknya prinsip-prinsip pemilu yang demokratis. Setidak-tidaknya, ada 5 (lima) parameter universal dalam menentukan kadar demokratis atau tidaknya pemilu tersebut, yakni (Modul Pengawasan, Bawaslu, 2009 : 7-8):
o   Universalitas (Universality)
Karena nilai-nilai demokrasi merupakan nilai universal, maka pemilu yang demokratis juga harus dapat diukur secara universal. Artinya konsep, system, prosedur, perangkat dan pelaksanaan pemilu harus mengikuti kaedah-kaedah demokrasi universal itu sendiri.
o   Kesetaraan (Equality)
Pemilu yang demokratis harus mampu menjamin kesetaraan antara masing-masing kontestan untuk berkompetisi. Salah satu unsur penting yang akan mengganjal prinsip kesetaraan ini adalah timpangnya kekuasaan dan kekuatan sumberdya yang dimiliki kontestan pemilu. Secara sederhana, antara partai politik besar dengan partai politik kecil yang baru lahir tentunya memiliki kesejnjangan sumberdaya yang lebar. Oleh karena itu, regulasi pemilu seharusnya dapat meminimalisir terjadinya political inequality.
o   Kebebasan (Freedom)
Dalam pemilu yang demokratis, para pemilih harus bebas menentukan sikap politiknya tanpa adanya tekanan, intimidasi, iming-iming pemberian hadiah tertentu yang akan mempengaruhi pilihan mereka. Jika hal demikian terjadi dalam pelaksanaan pemilu, maka perlakunya harus diancam dengan sanksi pidana pemilu yang berat.
o   Kerahasiaan (Secrecy)
Apapun pilihan politik yang diambil oleh pemilih, tidak boleh diketahui oleh pihak manapun, bahkan oleh panitia pemilihan. Kerahasiaan sebagai suatu prinsip sangat terkait dengan kebebasan seseorang dalam memilih.
o   Transparansi (Transparency)
Segala hal yang terkait dengan aktivitas pemilu harus berlandaskan prinsip transparansi, baik KPU, peserta pemilu maupun Pengawas Pemilu. Transparansi ini terkait dengan dua hal, yakni kinerja dan penggunaan sumberdaya. KPU harus dapat meyakinkan public dan peserta pemilu bahwa mereka adalah lembaga independen yang kan menjadi pelaksana pemilu yang adil dan tidak berpihak (imparsial). Pengawas dan pemantau pemilu juga harus mampu menempatkan diti pada posisi yang netral dan tidak memihak pada salah satu peserta pemilu. Sementara peserta pemilu harus dapat menjelaskan kepada public darimana, berapa dan siapa yang menjadi donator untuk membiayai aktifitas kampanye pemilu mereka. Bagaimana system rekrutmen kandidat dan proses regenarasi politik yang ditempuh sehingga semua pihak memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai kandidat wakil rakyat.
Sementara itu Ozbudun mengajukan tiga kriteria utama utuk mengukur apakah proses Pemilu berjalan secara free, fair and competitive. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagai berikut :
Pertama, adanya hak pilih universal bagi orang dewasa (universal adult suffrage). Artinya, setiap warga Negara dewasa mempunyai hak pilih yang sama tanpa membedakan jenis kelamin, agama, suku, etnis, faham, keturunan, kekayaan dan semacamnya, kecuali mereka dicabut haknya berdasarkan undang-undang; hak pilih universal ini pada umumnya dapat difungsikan untuk dua pemilihan : (1) pemilihan para pejabat eksekutif, baik di pusat maupun di daerah; dan (2) pemilihan para wakil untuk lembaga perwakilan rakyat atau legislative (Putranto : 1981).
Kedua, adanya proses pemilihan yang adil (fairness of voting). Untuk mengukur apakah suatu pemilu dijalankan secara fair atau tidak, dapat diamati melalui beberapa instrument berikut : (1) adanya jaminan kerahasiaan dalam proses pemilihan atau pencoblosan (secret ballot), yang harus diejawantahkan dalam undang-undang pemilu; (2) adanya jaminan bahwa prosedur penghitungan suara dilakukan secara terbuka (open counting), dimana semua warganegara mempunyai akses dan berhak menyaksikan prosesnya; (3) tidak adanya kecurangan-kecurangan dalam pemilihan atau tahapan pemilihan, baik ditahapan pendaftaran, kampanye, pencoblosan sampai pada tahapan perhitungan suara (absence of electrol froud); (4) tidak ada kekerasan, baik kekerasan politik yang dilakukan oleh aparat keamanan/pemerintah, partai politik peserta pemilu, maupun para pemilih (absence of violence); dan (5) tidak adanya intimidasi, khususnya dalam proses pemberian suara atau pencoblosan (absence of intimidations).
Ketiga, adanya hak khususnya bagi partai politik untuk mengorganisasi dan mengajukan para kandidat, sehingga para pemilih mempunyai banyak pilihan untuk memilih di antara para calon yang berbeda baik secara kelompok maupun program-programnya.

C.   Fungsi dan Peran Pengawas Pemilu
Di berbagai Negara di dunia sebetulnya pelaksanaan pemilu yang demokratis tidak mengharuskan adanya lembaga yang kita kenal sekarang dengan sebutan Badan Pengawas Pemilu untuk tingkat nasional dan Panitia Pengawas Pemilu untuk tingkat provinsi dan Kabupaten/kota untuk menjamin pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil. Bahkan dalam praktek pemilu di Negara-negara yang sudah berpengalaman melaksanakan pemilu yang demokratis, keberadaan lembaga Pengawas Pemilu tidak dibutuhkan. Namun para perancang undang-undang pemilu sejak Orde Baru sampai sekarang menghendaki lembaga Pengawas Pemilu itu eksis, karena karena posisi maupun perannya dinilai strategis dalam upaya pengawasan pelaksanaan pemilu sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku terutama menegakkan asas pemilu yang luber dan jurdil. Hal ini dapat kita temukan dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 yang menyebutkan bahwa : “Dalam penyelenggaraan pemilihan umum, diperlukan adanya suatu pengawasan untuk menjamin agar pemilihan umum tersebut benar-benar dilaksanakan berdasarkan asas pemilihan umum dan peraturan perundang-undangan”
Di dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2007 disebutkan bahwa fungsi Pengawas Pemilu yang dijabarkan dalam tugas,  wewenang dan kewajiban  Pengawas Pemilu. Berkaitan dengan tugas pengawasan pemilu ada pembagian tugas pengawasan pemilu yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
(a)  Bawaslu melakukan pengawasan terhadap seluruh tahapan penyelenggaraan Pemilu;
(b)  Panwaslu Provinsi mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu di wilayah provinsi;
(c)  Panwaslu kabupaten/kota mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah kabupaten/kota;
(d)  Panwaslu Kecamatan mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu di wilayah kecamatan;
(e)  Pengawas Pemilu Lapangan mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu ditingkat desa/kelurahan;
(f)   Pengawas Pemilu Luar Negeri mengawssi tahapan penyelenggaraan Pemilu di luar negeri.
Adapun tugas dan wewenang  Pengawas Pemilu dapatlah dijelaskan secara umum sebagai berikut :
(1)  Mengawasi tahapan penyelenggaraan pemilu;
(2)  Menerima laporan dugaan pelanggaran perundang-undangan pemilu;
(3)  Menyampaikan temuan dan laporan kepada KPU/KPU provinsi/KPU kabupaten/kota atau kepolisian atau instansi lainnya untuk ditindaklanjuti;
(4)  Mengawasi tindak lanjut rekomendasi;
(5)  Mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu; dan
(6)  Melaksanakan :
a)    Tugas dan wewenang lain ditetapkan oleh undang-undang (untuk Bawaslu, Panwaslu Provinsi, dan Panwaslu kabupaten/kota);
b)    Melaksanakan tugas lain dari Panwaslu Kecamatan (untuk Pengawas Pemilu lapangan); dan
c)    Melaksanakan tugas lain dari Bawaslu (untuk Pengawas Pemilu Luar Negeri).
Dalam melaksanakan tugas, Bawaslu, Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota berwenang :
(a)  Memberikan rekomendasi kepada KPU untuk menonaktifkan sementara dan/atau mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran;
(b)  Memberikan rekomendasi kepada yang berwenang atas temuan dan laporan terhadap tindakan yang mengandung unsur tindak pidana Pemilu.
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Pengawas Pemilu berkewajiban sebagai berikut :  
No.
Kewajiban
Pengawas Pemilu
1.
Bersikap tidak diskriminatif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya
Pengawas Pemilu disemua tingkatan
2.
Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas Pengawas Pemilu pada semua tingkatan
Bawaslu
3.
Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas Pengawas Pemilu pada tingkatan dibawahnya
Panwaslu Provinsi
4.
Menerima dan menindak lanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai pemilu.
Pengawas Pemilu disemua tingkatan
5.
Menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada presiden, DPR dan KPU sesuai dengan tahapan secara periodic dan/atau berdasarkan kebutuhan.
Bawaslu
6.
Menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada Bawaslu sesuai dengan tahapan Pemilu secara peridik dan/atau berdasarkan kebutuhan
Panwaslu Provinsi
7.
Menyampaikan temuan dan laporan kepada Bawaslu berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh KPU Provinsi yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat provinsi.
Panwaslu Provinsi
8.
Menyampaikan temuan dan laporan kepada Panwaslu Provinsi berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh KPU Kabupaten/kota yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Kabupaten/Kota.
Panwaslu Kabupaten/Kota
9.
Menyampaikan laporan kepada Panwaslu Kabupaten/Kota berkaitan dengan adanya dugaan tindakan yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Kecamatan.
Panwaslu Kecamatan
10.
Menyampaikan temuan dan laporan kepada Panwaslu Kabupaten/Kota berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh PPK yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Kecamatan.
Panwaslu Kecamatan
11
Menyampaikan  laporan kepada Panwaslu Kecamatan  berkaitan dengan adanya dugaan tindakan yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Kecamatan.
Pengawas Pemilu Lapangan
12
Menyampaikan temuan dan laporan kepada Panwaslu Kecamatan berkaitan dengan adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh PPS dan KPPS yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilu di tingkat Desa/Kelurahan.
Pengawas Pemilu Lapangan
Sumber : Buku Pedoman Pengawasan Pemilu 2009-Bawaslu
Apabila dibandingkan dengan Pemilu tahun 2004, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang 12 tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003, Pengawas Pemilu mempunyai tiga fungsi (tugas dan wewenang) yaitu : pertama, mengawasi pelaksanaan setiap tahapan pemilu; kedua, menangani kasus-kasus pelanggaran administrasi pemilu dan tindak pidana pemilu; dan ketiga, menyelesaikan sengketa dalam penyelenggaraan pemilu atau sengketa nonhasil pemilu. Sedangkan di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tugas yang terakhir (tugas ketiga) hanya ada pada Pengawas Pemilu tingkat kabupaten/kota, namun undang-undang pemilu yang baru tersebut menambah kekuatan Pengawas Pemilu yang meliputi beberapa aspek yaitu pertama, secara kelembagaan, Pengawas Pemilu tingkat nasional bersifat tetap dan kini memiliki jaringan sampai ke desa/kelurahan; kedua, secara fungsi, Pengawas Pemilu berwenang memberikan rekomendasi untuk memberhentikan anggota KPU dan KPU daerah yang dinilai melanggar peraturan perundang-undangan pemilu.
Dalam menjalankan tugas dan wewenang mengawasi setiap tahapan pemilu, apa yang dilakukan Pengawas Pemilu sebetulnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan pemantau pemilu atau pengamat pemilu, yakni sama-sama mengkritik, mengimbau dan memproses apabila terdapat hal yang menyimpang dari undang-undang. Namun terkait dengan penanganan kasus-kasus dugaan pelanggaran pemilu, maka disini terdapat perbedaan yang fundamental, karena Pengawas Pemilu menjadi satu-satunya lembaga yang berhak menerima laporan, dengan kata lain Pengawas Pemilu adalah merupakan satu-satunya pintu masuk untuk penyampaian laporan pelanggaran pemilu. Selain itu pula Pengawas Pemilu juga satu-satunya lembaga yang mempunyai kewenangan untuk melakukan kajian terhadap laporan atau temuan dugaan pelanggaran pemilu untuk memastikan apakah hal tersebut benar-benar mengandung pelanggaran. Bila terjadi pelanggaran administrasi maka Pengawas Pemilu merekomendasikan kepada KPU/KPUD untuk dikenakan sanksi administratif kepada pelanggar, sedangkan bila laporan tersebut mengandung unsur pelanggaran pidana maka Pengawas Pemilu meneruskannya kepada penyidik kepolisian. Oleh karena itu dalam pemilu 2004 dikatakan bahwa dalam menangani kasus-kasus pelanggaran pemilu, tugas Pengawas Pemilu tidak lebih dari sekedar “tukang pos” yang mengantar kasus ke KPU/KPUD atau ke kepolisian. Pengawas Pemilu pada pemilu 2004 tidak bisa berbuat apa-apa jika rekomendasi ke KPU/KPUD tidak ditindaklanjuti.
Posisi “tukang pos” sebagaimana dalam pemilu 2004 tersebut, kini ditingkatkan menjadi “tukang pukul” hal ini dimungkinkan karena Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 maupun Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 memberi “pentungan” kepada Pengawas Pemilu untuk “mementung” KPU/KPUD jika rekomendasi Pengawas Pemilu tidak ditindaklanjuti oleh KPU/KPUD. Artinya Pengawas Pemilu dapat memproses secara pidana bagi anggota KPU maupun KPUD yang tidak menindaklanjuti laporan atau rekomendasi Pengawas Pemilu. Ketentuan ini terjabarkan secara jelas dan tegas di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 pada BAB XXI Ketentuan Pidana, pada Bab ini setidaknya terdapat terdapat 5 (lima) pasal (pasal 263, pasal 264, pasal 267, pasal 268, pasal 275) yang mengancam hukuman pidana bagi KPU/KPUD yang tidak menindaklanjuti rekomendasi Pengawas Pemilu.   
Jika dalam hal menangani hasus-kasus pelanggaran administrasi, Pengawas Pemilu bertambah kekuatannya, tidak demikian halnya dalam hal penanganan kasus-kasus pidana. Kesuksesan Panwas Pemilu 2004 dalam menangani kasus-kasus pidana sebetulnya tidak lepas dari adanya unsur kepolisian dan kejaksaan dalam organ Pengawas Pemilu. Keberadaan dua unsur tersebut memudahkan Pengawas Pemilu dalam koordinasi dan percepatan penanganan kasus-kasus pidana pemilu yang memiliki limit waktu yang ketat. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 telah mengeluarkan unsur kepolisian dan kejaksaan dari organ Pengawas Pemilu, sehingga hal ini dapat mempengaruhi percepatan penanganan kasus-kasus. Dengan memperhatikan kelemahan ini panitia pengawas disamping harus meningkatkan kapasitas dan kemampuannya juga harus benar-benar dapat bertindak secara professional.
            Selain itu faktor lain yang menjadi kendala dalam pelaksanaan fungsi  Pengawas Pemilu  adalah  kendala waktu. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 lebih ketat dalam mengatur penerusan kasus pidana yang diajukan oleh Pengawas Pemilu ke kepolisian. Undang-Undang secara ketat memberikan waktu 3 (tiga) hari (lihat Pasal 247 ayat 6 UU Nomor 10 Tahun 2008) atau jika diperlukan keterangan tambahan dari pelapor mengenai tindak lanjut dilakukan paling lama 5 (lima) hari setelah laporan diterima (lihat Pasal 247 ayat 7 UU Nomor 10 Tahun 2008), dilain pihak undang-undang juga membatasi waktu laporan pelanggaran pemilu pada setiap tahapan penyelenggaraan pemilu disampaikan paling lama  3 (tiga) hari sejak  terjadinya pelanggaran pemilu (lihat Pasal 247 ayat 4 UU Nomor 10 Tahun 2008). pembatasan batas waktu tersebut memang baik untuk memberi kepastian hukum dalam penanganan tindak pidana pemilu tetapi dilain pihak Pengawas pemilu akan mengalami kesulitan jika saksi yang harus diklarifikasi bertempat tinggal jauh terutama di provinsi kepulauan, demikian juga  masyarakat akan mengalami kesulitan dalam membuat laporan pelanggaran pemilu kepada Pengawas Pemilu terutama yang tinggal pada wilayah-wilayah terpencil yang transportasinya sulit. Kendala tersebut coba diatasi oleh Bawaslu bersama dengan Jaksa Agung RI dan Kepala Kepolisian RI dengan membuat MoU tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Sentra Gakkumdu). Secara umum dapat dikatakan keberadaan Sentra Gakkumdu cukup berhasil dalam melaksanakan penegakan hukum secara sinergis antara Bawaslu (Pengawas Pemilu), Kepolisian dan Kejaksaan. Sekalipun demikian haruslah diakui bahwa peran Sentra Gakkumdu belumlah optimal terutama berkaitan dengan kordinasi antara pihak-pihak dalam Sentra Gakkumdu maupun semangat kebersamaan untuk mengemban tugas menegakkan hukum dalam bingkai sistem peradilan pidana terpadu.

D.   Penutup.
Dari gambaran sebagaimana diuraikan diatas maka terlihat bahwa Panwas Pemilu mempunyai peranan yang penting dalam rangka mengawal pelaksanaan pemilu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pentingnya peranan Pengawas Pemilu karena semua pengaduan haruslah melewati satu pintu yaitu Pengawas Pemilu. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya sangat diharapkan Pengawas Pemilu dapat bekerja secara professional serta bertindak cepat dan tepat dalam penanganan setiap laporan dari masyarakat maupun temuan dari Pengawas Pemilu sendiri.
Dilepasnya unsur kepolisian dan kejaksaan dari Pengawas Pemilu tidak berarti Pengawas Pemilu menjadi lemah tetapi haruslah lebih menunjukkan profesionalismenya dalam mengawal pelaksanaan peraturan perundang-undangan pemilu.

Bahan Pustaka
ADAB, Buku 3,  2003, Lokakarya Nasional Bagi Fasilitator Lokal NTT, Maluku dan Papua Dalam Program Pendidikan Pemilih Menyongsong Pemilu 2004, Hotel Santika Bali, 4-8 Desember 2003.
Ahmad Nadir, 2005, Pilkada Langsung dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia, Penerbit Averroes Press, Malang.
Modul Pengawasan, 2009, Badan Pengawas Pemilu-Indonesia Corruption Watch, Jakarta.
Nuridin, Rachamad K. Dwi Susilo, Tri Sulistyaningsih, 2006, Kebijakan Elitis Politik Indonesia, Penerbit Pustaka Pelajar-FISIP UMM, Malang.
Pedoman Pengawasan Pemilu 2009, 2009, Bawaslu RI, Jakarta.
Ramlan Surbakti dkk, 2008, Perekayaan Sistem Pemilihan Umum Untuk Pembangunan Tata Politik Demokratis, Partnership for Governance Reform Indonesia, Jakarta.
Sigit Putranto dan Kusumowidagdo, 1981, Sistem Pemilihan Umum Universal dan Parohial, Prisma (9).
Topo Santoso, 2006, Tindak Pidana Pemilu, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta.

Regulasi Panwas

Bawaslu Jateng di Bentuk

Bawaslu Jateng Umumkan Pendaftaran Panwas Pemilihan Bupati Dan Walikota


Jakarta, Badan Pengawas Pemilu - Setelah sebelumnya dilaksanakan pembentukan tim seleksi yang unsurnya terdiri dari  akademisi,  profesional, dan atau tokoh masyarakat yang memiliki integritas, Bawaslu Jateng besok ( hari ini Jum’at 14 November 2014 red ) mengumumkan secara resmi pendaftaran calon anggota Panwaslu Bupati dan Walikota di 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Demikian disampaikan Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Jawa Tengah Teguh Purnomo dikantornya sesaat setelah melakukan rapat pleno pimpinan dan kepala sekretariat Bawaslu Jateng Abhan, Juhanah, Kartini Tjandra L dengan Tim Seleksi Anggota Panwaslu Bupati dan Walikota tahun 2015  Andreas Pandiangan (Akademisi), Amir Machmud  (Tokoh masyarakat dan Pimpinan Redaksi Harian Suara Merdeka) , Edi Pranoto (Akademisi dan Mantan Panwaslu Provinsi Jateng), Fajar Subhi  (Profesional berlatar belakang advokat dan mantan Ketua KPU Jateng) dan Fitriyah (unsur akademisi perempuan dan mantan Ketua KPU Jateng). Dalam rapat internal tim seleksi tersebut, selanjutnya disepakati sebagai ketua tim seleksi Edi Pranoto dan sekretaris Andreas Pandiangan.
Teguh menambahkan, bahwa untuk melaksanakan penjaringan dan penyaringan ini, Tim Seleksi Panwas Pemilihan Bupati dan Walikota Kabupaten/kota bersama-sama dengan segenap kekuatan Bawaslu Jateng bekerja keras untuk menyampaikan informasi ini agar samppai di masyarakat paling bawah yang berminat untuk mendaftar menjadi pengawas. Selain pengumuman melalui media cetak dan elektronik pada saat pengumuman pendaftaran, Bawaslu Jateng juga bekerja sama dengan pemerintah kabupaten kota di Jawa Tengah yang akan melaksanakan Pemilihan Bupati dan Walikota untuk menyebarkan informasi ini melalui kesempatan formal atau media pemerintah lokal yang ada, maupun lelalui kesempatan non formal yang ada di daerahnya. Selain itu juga dilakukan pengumuman yang diitempelkan di KPU Kabupaten/Kota di 16 Kabupaten/Kota dan sekretariat Panwaslu Kabupaten/kota untuk Pemilu Legeslatif dan Pilpres 2014 lalu yang saat ini masih ada.
Waktu dan Persyaratan
Secara garis besar, pengumuman pendaftaran dilaksanakan mulai tanggal 14 sampai dengan 20 November 2014, Pendaftaran dan penerimaan berkas mulai tanggal 21 sampai dengan 27 November 2014, Pengumuman hasil administrasi tanggal 2 Desember 2014, Tanggapan dan masukan masyarakat mulai 2 sampai 6 Desember 2014, Tes tertulis 6 Desember 2014, Pengumuman test tertulis 8 Desember 2014, Tes wawancara 12 sampai 17 Desember 2014, Pengumuman dan penyampaian tes wawancara dari Timsel ke Bawaslu Jateng ( 6 besar calon anggota Panwas ) tanggal 20 Desember 2014 dan Uji kelayakan dan kepatutan ( fit and proper test ) mulai tanggal 21 sampai dengan 26 Desember 2014 untuk memilih 3 anggota Panwas terpilih.
Sedangkan persyaratan tidak ada yang menyulitkan, karena hanya berupa surat pernyataan calon pendaftar dan satu surat keterangan sehat dari Puskesmas/ Rumah Sakit Pemerintah. Untuk penjelasan dan form yang harus di isi oleh calon pendaftar dapat di unduh diwww.bawaslu-jatengprov.go.id dan www.bawaslu.go.id  UnduhUnduh

Timsel Jateng 2017

Timsel  Panwas Jateng yaitu, Hasyim Asyari, Abu Rokmad, Sri Wahyu Ananingsih, Amir Machmud, dan Muhammad Rofiudin. 

Panwas Kecamatan Kebumen di Bentuk

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Tengah akan segera merekrut panita pengawas pemilu (panwaslu) dan panwascam, untuk memantau pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 mendatang. Tahapan awal Pilgub Jateng 2018 akan dimulai pada Agustus 2017 nanti.
Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu Jateng Teguh Purnomo mengatakan, perekrutan panwaslu akan dimulai pada Mei atau Juni 2017 karena di bulan ini sejumlah personel panwaslu kabupaten/kota di Jawa Tengah purna tugas. Saat ini, yang dilakukan pihaknya adalah pembentukan panitia seleksi (pansel) di tingkat provinsi. Anggota dari pansel itu terdiri dari berbagai kalangan, baik dari akademisi maupun tokoh masyarakat.
“Sebelum tahapan dimulai, kami akan bentuk panwaslu di kabupaten/kota sampai kecamatan. Sehingga, ketika ada proses pemutakhiran daftar pemilih dan pendaftaran calon perseorangan, sudah bisa bekerja melakukan pengawasan,” katanya.
Mantan ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kebumen itu menjelaskan, setelah panwaslu di masing-masing kabupaten/kota terbentuk, maka dilanjutkan dengan seleksi petugas panwascam. (Bud)

Bawaslu jatenng,136 Lolos Seleksi Adminitrasi Panwas

Sebanyak 136 pendaftar anggota Panitia Pengawas Pemilu pada 35 Kabupaten atau Kota se-Jawa Tengah dinyatakan tidak lolos seleksi administrasi. Para pendaftar yang gagal lolos seleksi administrasi kebanyakan karena usia mereka di bawah 30 tahun.

"Yang paling banyak karena mereka berusia kurang dari 30 tahun. Sebanyak 90 orang pendaftar. Penyebab ketidaklolosan administrasi lain di antaranya belum lulus sarjana (S1), kurang melengkapi syarat administrasi, dan lain-lain," kata Anggota Komisioner Badan Pengawas Pemilu Jawa Tengah, Teguh Purnomo, Semarang, Jawa Tengah, Minggu, 9 Juli 2017.

Menurut Teguh, dari 1.183 pendaftar  Panwas yang masuk, sebanyak 1.047 orang yang dinyatakan lolos seleksi administrasi. 866 pendaftar merupakan lulusan S1, lulusan S2, 175 orang, dan lulusan S3, 6 orang.


"Pendaftar yang lolos adminitrasi didominasi laki-laki, 850 orang. Adapun dari kalangan perempuan sebanyak 197 orang," ungkap Teguh.

Para pendaftar yang lolos harus mengikuti tes tertulis pada pukul 10.00 WIB, Kamis, 13 Juli 2017
.

Pilkada di Jateng 2017



PANWAS Jateng  Adakan Seleksi Untuk Pilkada 2017



Semarang- Panitia Pengawas Pemilukada Jateng saat ini sedang menyelenggarakan seleksi calon Panwas Pilkada serentak pada tahun 2017. Namun  dari  233 pendaftar, yang dinyatakan lolos seleksi  administrasi hanya  202 orang, sedangkan sisanya  sebanyak 31 orang tidak lolos, karena mereka tidak memenuhi persyaratan secara lengkap dan tidak memenuhi syarat  usia minimal 30 tahun. Hal ini sebagaimana disampaikan  Tim Seleksi Panitia Pengawas Pemilu Jateng,  Sri Wahyu Ananingsih kepada Pers (senin 25/4) yang membenarkan hanya sebanyak 202 orang yang bisa ikut seleksi lanjutan,” Ya , 202 pendaftar yang lolos seleksi administrasi itu terdiri dari Kota Salatiga sebanyak 14 orang, Kabupaten Banjarnegara 28 orang, Kabupaten Batang 23 orang, Kabupaten Jepara 26 orang, Kabupaten Pati 48 orang, Kabupaten Cilacap 31 orang, dan Kabupaten Brebes 32 orang,” jelasnya.

Selanjutnya menurut Sri,  bagi para pendaftar yang lolos seleksi administrasi diminta untuk ikut tahapan seleksi berikutnya berupa tes tertulis yang dilaksanakan pada Rabu (27/4) pukul 08.00-11.00 WIB yang lokasinya disesuaikan dengan kedekatan para pendaftar yang  dibagi menjadi tiga yaitu peserta dari Kota Salatiga, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Pati akan mengikuti tes tertulis di Hotel Gripta, Jalan AKBP. R. Agil Kusumadya Nomor 100 Kudus, peserta dari Kabupaten Batang dan Kabupaten Brebes bertempat di Hotel Santika, Jalan Gajah Mada Barat No. 7A, Kramatsari, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. Sedangkan peserta dari Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Cilacap bertempat di Hotel Horison Ultima Purwokerto, Jalan Doktor Angka No. 71, Purwokerto.

Dalam Pantauan Jantramas.com, memang jelang Pilkada Serentak tahun 2017 mendatang para penyelenggara di beberapa Kabupaten /Kota di Jawa Tengah saat ini mulai mempersiapkan berbagai hal, termasuk para petugasnya. Dan Bawaslu Jawa Tengah sebelumnya  telah membentuk tim seleksi panwas sesuai surat Bawaslu Republik Indoneesia tertanggal 28 Maret 2016 Nomor 0241/K.Bawaslu/KP.00/III/2016 tentang Pedoman Pembentukan Pengawas Pemilihan dalam rangka Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tahun 2017. Kemudian atas dasar surat tersebut  dalam Rapat Pleno Bawaslu Jateng telah diputuskan Timsel  Panwas Jateng yaitu, Hasyim Asyari, Abu Rokmad, Sri Wahyu Ananingsih, Amir Machmud, dan Muhammad Rofiudin. Mereka diberikan amanat untuk menyeleksi Para Petugas Panwas yang ada di Kabupaten/Kota yang akan m enyelenggarakan Pilkada pada Tahun 2017 adalah Kota Salatiga, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Batang, Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Brebes.(Tim Jantramas.com Semarang)